RSS

DEVELOPMENT OF DSS

25 Des

DEVELOPMENT OF DSS

Proses Pengembangan: Life Cycle & Prototyping

Pembangunan DSS dilakukan dalam berbagai cara. Dibedakan antara life cycle (daur hidup) dan iterative process (proses berulang)

  1. Pendekatan SDLC (System Development Life Cycle)
    • Asumsi dasarnya adalah kebutuhan informasi dari suatu sistem ditentukan sebelumnya
    • IRD (Information Requirement Definition) adalah pendekatan formal yang digunakan oleh sistem analis.
    • IRD juga dapat melibatkan CSF (Critical Succes Factors)
    • DSS didesain untuk membantu pengambilan keputusan para manajer pada masalah yang tidak terstruktur. Di satu sisi, memahani kebutuhan user adalah hal yang sulit. Sehingga perlu diterapkan bagian pembelajaran dalam desain atau proses kita. Diharapkan user belajar mengenai masalah atau lingkungannya sehingga dapat mengidentifikasi kebutuhan informasi baru dan yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya.
  2. Pendekatan Prototyping Evolusioner
    • Para pengambil keputusan mungkin tidak memahami lingkup masalah, jenis teknologi atau model yang sesuai untuk diterapkan, karena itu sebagian besar DSS dikembangkan dengan proses prototyping
    • Pendekatan Prototyping disebut juga Proses Evolusioner (Evolutionary Process), Proses Berulang (Iterative Process), atau cukup disebut prototyping saja. Nama lainnya adalah Middle Out Process (Proses Sementara), Adaptive design (desain adaptif) dan Incremental design (design berkelanjutan).
    • Proses desain berulang ini mengkombinasikan 4 fase utama SDLC tradisional (analisis, desain, konstruksi dan implementasi) ke dalam 1 langkah yang diulang-ulang
    • Metode Prototping ini menekankan pada pembangunan sebuah DSS dalam serangkaian langkah singkat dengan umpan balik segera dari para pengguna untuk memastikan bahwa pengembangan sedang berjalan degan tepat. Karena itu, piranti DSS harus fleksibel untuk mengizinkan perubahan secara cepat dan mudah
    • Proses berulang terdiri dari 4 tugas:
      1. memilih submasalah penting yang akan dibangun pertama kali
      2. mengembangkan sistem yang kecil, tapi berguna dalam pengambilan masalah
      3. mengevaluasi sistem terus menerus
      4. menghaluskan, mengembangkan, dan memodifikasi sistem secara berulang
  1. Keuntungan proses berulang dalam membangun DSS:
    waktu pengembangan singkat
  1.  waktu terjadinya umpan balik dari user singkat
  2.  meningkatkan pemahaman user terhadap sistem, informasi yang dibutuhkan dan kemampuannya
  3. biaya rendah

Pengembangan DSS Berbasis Tim dan Berbasis User

  1. Pengembangan DSS berbasis tim
  •  Pengembangan DSS pada tahun 1970 dan 1980-an melibatkan skala yang bear, sistemnya kompleks, dan didesain utama untuk mendukung organisasi.
  •  Sistem ini didesain oleh tim yang terdiri dari user, penghubung, DSS builder, tenaga ahli, dan berbagai tools
  • Secara organisasi, penempatan DSS Group bisa dimana-mana, umumnya pada lokasi:
  1.  Dalam departemen IS (Information Services)
  2. Executive Staff Group
  3.  Dalam Wilayah keuangan ataupun fungsi lainnya
  4.  Dalam departemen rekayasa industri
  5.  Dalam kelompok manajemen pengetahuan (Managemen Science Group)
  6.  Dalama kelompok pusat informasi (Information Center Group)
  • Dengan berbasis Tim, maka pembangunan DSS menjadi kompleks, lama dan prosesnya memakan biaya.
  1. Pengembangan DSS berbasis Pengguna
  •  PC telah tersebar di seluruh organisasi, komunikasi dengan server data telah meningkat, dan piranti perangkat lunak telah meningkat (kemampuan, user friendly,harga dan kualitas). Sehingga para pengguna memerlukan piranti untuk mengembangkan DSS/BI mereka sendiri, bahkan sistem berbasis web.
  • Keuntungan penting dari DSS berbasis Pengguna:
  1. Waktu penyerahan pendek. Tidak perlu menunggu tim pengembangan SI untuk menjadwalkan dan menyelesaikan penyelesaian
  2. Prasyarat dari spesifikasi persyaratan pengguna ekstensif dan formal dapat disesuaikan.
  3. Berkurangnya beberapa masalah implementasi
  4. Biaya pada umumnya rendah

Risiko pengembangan DSS berbasis pengguna:

  1.  Kualitas buruk, karena kurangnya pengalaman design DSS formal dan kecenderungan pengguna akhir untuk mengabaikan kendali konvensional, prosedural pengujian, dan standar dokumentasi dapat mendorong kepada sistem berkualitas rendah.
  2.  Risiko keamanan meningkat karena pengguna kurang mengenali ukuran keamanan
  3. Tidak adanya prosedur dokumentasi dan pemeliharaan mungkin menyebabkan permasalahan, terutama jika pengembang meninggalkan organisasi
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Desember 2012 in Uncategorized

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: